Jumat, 25 Juli 2008

IBNU SAB’IN:
SANG PENGGAGAS WIHDATUL AL-MUTLAQAH

“Allah faqat!” (Allah saja), begitulah ungkapan yang berulang kali diucapkan Ibn Sab’in di setiap lembaran yang ada pada salah satu karya, al-Alwah, dan ini adalah premis mayor dalam pandangannnya yang berkaitan dengan wahdah al-mutlaq. Ibn Sab’in adalah pendiri trend wahdah al-Mutlaq dalam menjelaskan entitas wujud. Landasar berfikirnya cukup simpel, yaitu bahwa wujud adalah satu, hanya wujud Allah saja, sementara wujud semua maujud adalah wujud dari entitas wujud yang satu, tidak ada tambahan apa-apa, dan wujud di sini pada hakikatnya adalah premis yang satu dan yang tetap. Wujud Allah adalah sumber bagi entitas yang ada dan entitas yang akan ada, wujud materi yang bisa dilihat dikembalikan pada wujud mutlak yang bersifat ruhy (immateri/spiritual). Dari sini, Ibn Sab’in memaknai wujud adalah wujud yang bersifat immateri, bukan materi.
Wujud, menurut Ibnu Sab’in, adalah esa, dia adalah satu premis yang di dalamnya mencakup semua sesuatu yang ada, al-haq (sang kebenaran) yang bersama semua sesuatu, di dalam pengetahuan-Nya atas segala sesuatu ada di masa azali dan kekal, ilmu-Nya adalah esensi-Nya... dan dia berkata, “Segala sesuatu yang bisa dicapai oleh akal dan panca indera adalah wujud dan gradasi. Akal adalah gradasi, panca indera adalah gradasi, sementara gradasi adalah musnah dan wujud adalah tetap. Dan yang tetap adalah haq (benar), dan yang musnah adalah illusi dan menipu. Lebih jelasnya agar kita tidak kebingungan dan terjebak kepada kerancuan, terlebih dahulu kita harus memetakan atau menjelaskan dengan rlatif tepat seputar wujud, ketiadaan (‘adam), mendenahkan dikotomisasi maujud (entitas yang ada) dan entitas yang tidak ada (ma’dum), dan peniadaan (i’dam), dalam perspektif Ibnu Sab’in, yang tentunya memilik khas paradigma dan pola pemikirannya sendiri yang berbeda dengan para filsuf Islam yang lain.
Wujud atau bisa dikatakan dengan “gradasi wujud”, menurut Ibnu Sab’in, terbagi menjadi wujud mutlaq, muqayyad dan muqaddar, ketiga wujud ini berada pada tataran kesusastraan atau wacana. Wujud mutlaq adalah Allah, muqayyad adalah Aku dan Kamu, dan muqaddar adalah segala sesuatu yang independen. Akan tetapi, wujud dalam makna hakikinya adalah hanya sang esa, sehingga jika wujud mutlak menyebut dirinya maka niscaya menyebut segala sesuatu, jika muqayyad menyebut dirinya maka dia tidak menyebut apa-apa, karena dia bukanlah sang penyebut dan yang disebut, dan begitu juga dengan muqaddar.

By. Amrullah Ali Moebin (07110176)

Tidak ada komentar: