IBNU SAB’IN:
SANG PENGGAGAS WIHDATUL AL-MUTLAQAH
“Allah faqat!” (Allah saja), begitulah ungkapan yang berulang kali diucapkan Ibn Sab’in di setiap lembaran yang ada pada salah satu karya, al-Alwah, dan ini adalah premis mayor dalam pandangannnya yang berkaitan dengan wahdah al-mutlaq. Ibn Sab’in adalah pendiri trend wahdah al-Mutlaq dalam menjelaskan entitas wujud. Landasar berfikirnya cukup simpel, yaitu bahwa wujud adalah satu, hanya wujud Allah saja, sementara wujud semua maujud adalah wujud dari entitas wujud yang satu, tidak ada tambahan apa-apa, dan wujud di sini pada hakikatnya adalah premis yang satu dan yang tetap. Wujud Allah adalah sumber bagi entitas yang ada dan entitas yang akan ada, wujud materi yang bisa dilihat dikembalikan pada wujud mutlak yang bersifat ruhy (immateri/spiritual). Dari sini, Ibn Sab’in memaknai wujud adalah wujud yang bersifat immateri, bukan materi.
Wujud, menurut Ibnu Sab’in, adalah esa, dia adalah satu premis yang di dalamnya mencakup semua sesuatu yang ada, al-haq (sang kebenaran) yang bersama semua sesuatu, di dalam pengetahuan-Nya atas segala sesuatu ada di masa azali dan kekal, ilmu-Nya adalah esensi-Nya... dan dia berkata, “Segala sesuatu yang bisa dicapai oleh akal dan panca indera adalah wujud dan gradasi. Akal adalah gradasi, panca indera adalah gradasi, sementara gradasi adalah musnah dan wujud adalah tetap. Dan yang tetap adalah haq (benar), dan yang musnah adalah illusi dan menipu. Lebih jelasnya agar kita tidak kebingungan dan terjebak kepada kerancuan, terlebih dahulu kita harus memetakan atau menjelaskan dengan rlatif tepat seputar wujud, ketiadaan (‘adam), mendenahkan dikotomisasi maujud (entitas yang ada) dan entitas yang tidak ada (ma’dum), dan peniadaan (i’dam), dalam perspektif Ibnu Sab’in, yang tentunya memilik khas paradigma dan pola pemikirannya sendiri yang berbeda dengan para filsuf Islam yang lain.
Wujud atau bisa dikatakan dengan “gradasi wujud”, menurut Ibnu Sab’in, terbagi menjadi wujud mutlaq, muqayyad dan muqaddar, ketiga wujud ini berada pada tataran kesusastraan atau wacana. Wujud mutlaq adalah Allah, muqayyad adalah Aku dan Kamu, dan muqaddar adalah segala sesuatu yang independen. Akan tetapi, wujud dalam makna hakikinya adalah hanya sang esa, sehingga jika wujud mutlak menyebut dirinya maka niscaya menyebut segala sesuatu, jika muqayyad menyebut dirinya maka dia tidak menyebut apa-apa, karena dia bukanlah sang penyebut dan yang disebut, dan begitu juga dengan muqaddar.
By. Amrullah Ali Moebin (07110176)
Jumat, 25 Juli 2008
ANGKA DALAM PANDANGAN IKHWAN AL-SHAFA
Risa’il Ikhwan Al-Shafa berisi aneka pemikiran filsafat, matematika dan politik yang disampaikan dalam kemasan populer. Risail ini terdiri atas 51 risalah yagn dilengkapi ikhtisar dibagian akhirnya. Ikhtisar ini di garap oleh al-Majriti yang konon dia adalah pembawa pertama ajaran ikhwan al-shafa ke spanyol. Dalam ensikopedia ini, secara garis besar, dapat di bagi empat kelompok. Kelompok pertama empat belas risalah “matematis” tentang angka. Kelompok kedua, terdiri dari tujuh belas risalah yang membahas tentang persoalan “persoalan fisik-material”. Kelompok yang ketiga, terdiri atas sepuluh risalah “psikologis-rasional” yang membahas prinsip-prinsip intelektual. Kelompok yang terakhir adalah kelompok keempat terdiri dari empat belas risalah yang membahas tentang tuhan.
Dari uraian di atas risail ikhwan al-shafa tidak dapat diragukan lagi. Dari beberapa literatur ikhwan al-shafa banyak berkomentar tentang angka ataupun bilangan. Matematika ikhawan al-shafa kemungkinan besar dari pandangan Nichomus dari garasa dan pythagoras. Pembahasan diawali dengan angka satu. Menurut mereka, satu yang sejati sama dengan sesuatu (thing). Keduanya sangat umum dan tak terbagi. Kejamakan baru mulai muncul apabila satu yang sejati tadi ditambah dengan satu yang lain. Dengan demikian, angka satu dapat dipandang sebagai dasar semua angka, yang dengan sendirinya bukanlah angka. Angka-angka ini kemudian dianggap memiliki ciri-ciri fisik dan meta fisik yang berfungsi sebagai petunjuk-petunjuk untuk memahami alam dan mengantarkan penelitui yang tekun meneliti jiwa, alam spiritual dan pada akhirnya tuhan semesta alam. Ikhwan memegang “keyakinan pythagorean bahwa siofat dasar hal-hal yang diciptakan adalah sesuai dengan sifat dasar bilangan”. Oleh karena itu mereka mengikuti kaum pythagorean yang memberi perhatian kusus angka-angka tertentu misalnya angka empat dimaksudkan tuhan untuk menunjukkan bahwa alam spiritual berbentuk persegi empat yang terdiri atas pencipta, intelektual universal, jiwa universal, dan dan materi primer. Itu pula sebabnya allah menciptakan elemen-elemen dasar –dalam fisika klasik- humor, musim, penjuru bumi, dan sebagainya berjumlah empat atau berbentuk persegi empat.
. Kendatipun mencurahkan perhatiahan penuh terhadap angka, ikhwan berusaha menghindari kesalahan yang dilakukan utama oleh kaum pythagorean, seperti ketika angka dan hal-hal yang diangkakan dirancukan. Mereka menolak gagasan-gagasan pythagorean tentang perpindahan jiwa (reinkarnasi) dan lebih berpegang pada penyician jiwa yang tercapai dalam satu kehidupan. Bagi ikhwan seorang yang belajar tentang keesaan Tuhan dengan mengetahui hal-hal yang bekenaan dengan angka.
By: Amrullah Ali Moebin 07110176
Risa’il Ikhwan Al-Shafa berisi aneka pemikiran filsafat, matematika dan politik yang disampaikan dalam kemasan populer. Risail ini terdiri atas 51 risalah yagn dilengkapi ikhtisar dibagian akhirnya. Ikhtisar ini di garap oleh al-Majriti yang konon dia adalah pembawa pertama ajaran ikhwan al-shafa ke spanyol. Dalam ensikopedia ini, secara garis besar, dapat di bagi empat kelompok. Kelompok pertama empat belas risalah “matematis” tentang angka. Kelompok kedua, terdiri dari tujuh belas risalah yang membahas tentang persoalan “persoalan fisik-material”. Kelompok yang ketiga, terdiri atas sepuluh risalah “psikologis-rasional” yang membahas prinsip-prinsip intelektual. Kelompok yang terakhir adalah kelompok keempat terdiri dari empat belas risalah yang membahas tentang tuhan.
Dari uraian di atas risail ikhwan al-shafa tidak dapat diragukan lagi. Dari beberapa literatur ikhwan al-shafa banyak berkomentar tentang angka ataupun bilangan. Matematika ikhawan al-shafa kemungkinan besar dari pandangan Nichomus dari garasa dan pythagoras. Pembahasan diawali dengan angka satu. Menurut mereka, satu yang sejati sama dengan sesuatu (thing). Keduanya sangat umum dan tak terbagi. Kejamakan baru mulai muncul apabila satu yang sejati tadi ditambah dengan satu yang lain. Dengan demikian, angka satu dapat dipandang sebagai dasar semua angka, yang dengan sendirinya bukanlah angka. Angka-angka ini kemudian dianggap memiliki ciri-ciri fisik dan meta fisik yang berfungsi sebagai petunjuk-petunjuk untuk memahami alam dan mengantarkan penelitui yang tekun meneliti jiwa, alam spiritual dan pada akhirnya tuhan semesta alam. Ikhwan memegang “keyakinan pythagorean bahwa siofat dasar hal-hal yang diciptakan adalah sesuai dengan sifat dasar bilangan”. Oleh karena itu mereka mengikuti kaum pythagorean yang memberi perhatian kusus angka-angka tertentu misalnya angka empat dimaksudkan tuhan untuk menunjukkan bahwa alam spiritual berbentuk persegi empat yang terdiri atas pencipta, intelektual universal, jiwa universal, dan dan materi primer. Itu pula sebabnya allah menciptakan elemen-elemen dasar –dalam fisika klasik- humor, musim, penjuru bumi, dan sebagainya berjumlah empat atau berbentuk persegi empat.
. Kendatipun mencurahkan perhatiahan penuh terhadap angka, ikhwan berusaha menghindari kesalahan yang dilakukan utama oleh kaum pythagorean, seperti ketika angka dan hal-hal yang diangkakan dirancukan. Mereka menolak gagasan-gagasan pythagorean tentang perpindahan jiwa (reinkarnasi) dan lebih berpegang pada penyician jiwa yang tercapai dalam satu kehidupan. Bagi ikhwan seorang yang belajar tentang keesaan Tuhan dengan mengetahui hal-hal yang bekenaan dengan angka.
By: Amrullah Ali Moebin 07110176
Langganan:
Postingan (Atom)

